Selasa, 16 Desember 2014

Jaga Hatimu, Sayang (Sebuah Sajak Fiktif dari Suami)



Jaga hatimu, sayang…
Jangan kau labuhkan sembarangan
Jaga hatimu, sayang…
Karena aku tak ingin hanya jadi pelampiasan
Jaga hatimu, sayang…
Untuk sebuah kehormatan dan tanda kesetiaan
Jaga hatimu, sayang…
Karena aku tak rela jika hanya jadi yang kesekian
Jaga hatimu, sayang…
Dengan sabar dalam penantian

Kamis, 20 November 2014

Cerpen Persahabatan



Kenapa?
(Kisah Ini Hanya Fiktif  belaka, bila ada kesamaan nama,  tempat, dan cerita itu karena saya suka. Hahaa ^_^ )


Aku Adi 19 tahun, baru 2 minggu yang lalu aku bareng teman-teman pergi kamping ke Banjar Baru. Entah mengapa sejak saat itu hubunganku dengan mereka agak renggang. Tak ada alasan pasti. Edo, temanku yang begitu akrab pun kini seakan menjauhiku. Asep,juga seakan tak merespon dengan kata-kataku. Kenapa? aku masih saja bergulat dengan sejuta kebingunganku. Mengapa kalian berubah begitu drastis. Kini, aku mulai mencoba mendekati Irwan, dia adalah temanku juga meski tidak begitu akrab. Aku mencoba menanyakan perihal kelakuan Edo dan Asep padaku.
“Ir, kenapa ya aku koq ngerasa Edo dan Asep menjauhiku?” tanyaku langsung pada inti permasalahan
“Ah, itu cuman perasaan kamu aja kali” jawabnya dengan wajah setengah meyakinkan
“Ini  fakta tahu, buktinya aja tadi saat istirahat mereka gak ngajak-ngajak aku ke kantin. Kan biasanya kami selalu pergi bareng : Tree Boy Ganteng” jawabku dengan nada sedikit kunaikkan setengah oktaf.
“Ya,  mungkin aja mereka lupa. Namanya juga manusia. Dan satu lagi ya, sebaiknya kamu itu bergaul gak hanya dengan 2 orang itu aja. Teman yang lain kan banyak,  ada sekitar 45 orang lagi” jelas Irwan dengan merapikan kerah bajunya yang mulai tak teratur
“Kenapa? kenapa bisa lupa. Bukankah kami itu Tree Boy Ganteng  seharusnya selalu ber-3. Apa aku sudah tak dianggap lagi sebagai salah satu anggota Tree Boy Ganteng! Kenapa?” tanyaku dengan nada sedikit kesal dengan pernyataan Irwan
“Di, asal kamu tahu ya. Semua orang itu tak selamanya harus seperti yang kamu harapkan. Baik sikapnya, sifatnya dan apa pun yang terkait dengannya. Mereka punya pandangan sendiri, kamu gak bisa memaksa mereka mengikuti apa maumu; ya jadi orang itu mesti legowo laah” Sahut Irwan mencoba memberikan motivasi padaku
Setelah perbincangan aku dengan Irwan 2 hari yang lalu. Tak ku lihat ada perubahan pada Edo dan Asep. Mereka tetap saja cuek padaku. Kenapa? aku masih berkutat dengan seribu tanda tanaya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi saat ini dengan kami; Tree Boy Ganteng. Aku pun mencoba untuk mendekati mereka ber-2.
“Hey Sep, apa kabar?”tanyaku sambil menyunggingkan senyuman semanis-manisnya lebih manis dari madu
“Baik” jawabnya singkat sekali
“kalau kabar kamu Do?” tanyaku pada Edo Sudodo
“Baik” jawabnya sambil mengutak-atik laptop barunya
Kenapa? jawaban mereka begitu dingin, lebih dingin dari es batu yang ada dilemari es paman kantin. Aku pun hanya bisa terdiam saat itu, dan yang paling memilukan adalah mereka seakan tak memperhatikan keadaanku disamping mereka. Kenapa?
Hari-hari yang ku lewati begitu sepi, dingin dan tak seasyik saat bersama “Tree Boy Ganteng” aku begitu kesepian disini.
“Hey’ sapa seseorang bersuara lembut lebih lembut dari kain sutera
“Eh, ada apa di?” sahutku kepada Diana gadis paling ramah dan baik hati di dalam kelas.
“Kamu kenapa koq ngelamun?” tanyanya dengan nada prihatin
“Aku baik-baik saja di” jawabku seadanya
“Yo wes, jangan melamun aja ya entar kesambet lo” sahutnya sambil tersenyum, mengingatkanku pada adik kecilku.
“Iya, aku tidak apa-apa. Terimakasih sudah memperhatikanku” sahutku dengan nada datar
Sekitar jam 12:00 wita aku menerima sebuah pesan yang lumayan panjang begini isi pesannya
-kepada saudara kami, sahabat kami, Adi Tree Boy Ganteng
Sebelumnya kami : Edo Sudodo dan Asep Surasep meminta maaf  kepadamu atas sikap kami akhir-akhir ini. Mungkin kamu merasa bahwa ada perubahan yang terjadi kepada kami. Bukannya kami menjauh darimu di, hanya saja kami berharap kamu bisa intropeksi diri. Sebenarnya kamu lah yang mulai berubah, entah apa sebabnya kami tidak lebh tahu daripada dirimu sendiri. Sebenarnya kami senang saja bergaul dengan mu, tapi mungkin ada beberapa hal yang kurang kami suka yaitu; kamu terkadang suka memaksa kan persepsimu agar sama dengan persepsi masing-masing dari kami. Padahal kan kita punya pemikiran masing-masing dan jelas persepsi dan pandangan kita terhadap suatu hal akan berbeda. Jadi, ini hanya sekedar saran saja sih dari kami buat kamu kalau diterima ya syukur, kalau tidak ya No Problem. Jika kamu mau “Tree Boy Ganteng” tetap Eksis di kampus Tersayang kita ini, maka kamu sebaiknya bisa memahami akan kekurangan dan kelebihan kami. Jangan selalu menuntut agar kami bisa sesempurna impianmu, kami tak mungkin selalu ada untukmu karena kami punya waktu pribadi. Dan satu lagi, kalau berteman itu ya musti sabar lah. Terimalah temanmu seadanya, jangan terlalu berharap banyak. Karena tempat berharap yang paling agung hanyalah ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala.
#Salam Tree Boy Ganteng
Aku terhenyak dan terpekur setelah membaca pesan tersebut.Ternyata, selama ini aku lah yang keliru menilai teman-temanku. Dan kini aku mulai mengubah semua kebiasaanku yang dulunya selalu ingin dituruti, dipahami, dan dimengerti menjadi belajar menuruti, memahami dan mencoba mengerti.
Tamat

Sabtu, 01 November 2014

cerpenku ^_^



Jeans Terakhirku
Pagi-pagi sekali aku bangun dan langsung mandi, sarapan dan langsung merapikan diri. Waah, hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Karena aku dan teman-teman sekelas akan pergi wisata ke pulau kembang.
“Ayah, aku berangkat dulu ya” (ucapku sambil memasang tali sepatuku)
“Tunggu sebentar nak, ganti dulu tuh jeans kamu. Ayah gak suka! Pake rok aja sana” (jawab Ayah)
“Ayah ini, kan aku sudah bilang aku suka pake jeans, lagi pula ini trend anak muda zaman sekarang’ (jawabku ketus)
“kalau kamu gak dengerin kata-kata Ayah, kamu gak boleh berangkat!” (sahut Ayahku dengan tegas)
“Maaf Ayah, aku sudah telat nih. Aku berangkat dulu ya” ( sahutku tanpa memerdulikan Ayah dan langsung pergi dengan sepeda motorku)
Belum lagi nyampe di tempat berkumpul dengan teman-teman. Tiba-tiba sepeda motorku mogok dan yang lebih parahnya itu, mogoknya di tempat yang sepi. Huh, batinku mulai mengeluh dan menyalahkanku mengapa tadi aku membantah perkataan Ayah. Toh, hasilnya jadi begini. Untunglah di pertigaan jalan yang hamper 200 meter ku tempuh dengan mendorong sepeda motorku terdapat bengkel. Ya, syukurlah.
Setelah sepeda motorku diperbaiki, yang hamper memakan waktu 30 menit. Aku pun bergegas ke tempat berkumpul, berharap aku tak ditinggal teman-teman. Tapi apalah daya kenyataannya tepat aku sampai, mereka sudah mengarungi sungai dan menuju pulau kembang. Huh, aku kesal sekali dan langsung balik ke rumah. Setibanya di rumah aku kaget bukan kepalang. “ayah, ayah, bangun ayah!” (wajahku pucat melihat ayah tergolek lemas di atas sofa). Secepat kilat aku langsung menelepon ambulans dan Ayahku pun dirawat di rumah sakit. Aku bingung, mengapa ayah bisa seperti itu. 1 jam kemudian, dokter keluar dari ruang kamar ayahku dirawat.
“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya? Apa yang dideritanya dok?” (tanyaku dengan jantung yang berdegup kencang)
“Tenang nak, Ayahmu hanya terlalu lelah dan terlalu banyak pikiran. Sebaiknya ayahmu istirahat dulu disini sampai pulih betul” (jawab dokter dan sambil menenangkanku)
Aku pun menarik nafas panjang dan memikirkan kembali “Seharusnya aku dengar kata-kata ayah tadi, mungkin gara-gara aku membantah, ini yang terjadi.Ayah maafkan putrimu ini” (gumamku dalam hati penuh penyesalan).
Aku pun pulang ke rumah mengganti jeansku ini dengan rok yang diinginkan Ayah. Aku mau setelah siuman nanti Ayah akan senang melihatku.
Di rumah sakit, belum lagi sempat aku ke kamar Ayah, tiba-tiba ku lihat beberapa perawat yang berbaju putih-putih mendorong seorang pasien kea rah ruang UGD. Setelah ku lihat, ternyata itu Ayah. Akupun langsung mengikuti mereka dengan langkah yang mulai ku percepat. Ya Tuhan, ada apa dengan Ayahku? Hatiku pun mulai gelisah, menunggu di luar ruangan itulah yang ku bisa. Sambil berkomat-kamit berdoa; Tuhan aku mohon sembuhkanlah Ayahku”
45  menit kemudian, seorang perawat memanggilku dan menyuruhku untuk masuk. Rupanya ayahku sudah siuman.
“Ayah, maafkan aku” (ucapku dengan berderai air mata)
“sudahlah saying, hapus air matamu. Ayah tidak apa-apa. Wah, kamu pake rok ya. Nah, kalau gitu kan kamu cantik” (Sahut Ayahku dengan suara parau dan wajah pucatnya)
“Maafkan aku Ayah, aku janji gak akan membantah lagi, aku janji gak akan pake jeans lagi”. (jawabku masih dengan linangan air mata)
“Sayang, Ayah nasihati kamu itu untuk kebaikanmu juga. Karena Ayah sayang dengan putri cantik Ayah ini” ( Ayahku menjawab dengan senyuman yang begitu manis)
“Iya Ayah, aku juga sayang Ayah. Do’akan putrimu ini ya Ayah, supaya bisa istiqomah dengan kerudung dan gak pake jeans lagi” (jawabku sambil menghapus air mataku dengan tissue)
“do’akan Ayah juga ya, Ayah mau tidur dulu” (Sahut Ayahku sambil menutupkan matanya)
Tak kusangka itu adalah hari terakhirku bersama Ayah, Ayah tidur dan tak bangun kembali.
Ayah, semoga kau bahagia disana.
                                                            Tamat

Senin, 27 Oktober 2014

Puisiku

Senandung Malam

Malam yang bertabur bintang
menemani cakrawala kehidupan
dengan sejuta angan dan jua kisah
menanti harapan di ujung penantian

Malam masih saja kelam
mengelabu biru dibalik awan
ia terlelap dengan kesejukan alam
menerawang membagikan angan

Masih dengan malam ia bertahan
pada janji yang bercahaya
dibalik sutera putih ia berkata
daku akan selalu setia

Pada Malam ia setia
dengan mimpi yang berhamburan
seperti bintang nan gemerlap
membuat hati menjadi riang

Pada Malam kusampaikan
titip kasih dan jua sayang
kepada insan yang terjaga
menantimu dalam do'a

Senin, 22 September 2014

Cerpen Part 1



Malam semakin larut, namun mataku masih saja tak bisa dikatupkan. Seminggu sudah ibuku terbaring lemah di tempat tidur. Aku tak tahu pasti sakit apa yang diderita ibu. Karena sampai saat ini kami belum bias membawa ibu ke rumah sakit karena ketiadaan biaya. Hanya pengobatan tradisional saja yang bias kami lakukan, yang lebih murah biayanya. Aku tahu, seharusnya sebagai seorang anak bias menjaga ibu dengan baik. Tapi pada kenyataannya akulah penyebab dari sakit yang diderita ibu. Aku sangat sedih karena kebodohanku yag memaksa untuk naik Bianglala membuat ibu terpaksa ikut menemaniku ke Taman Raya pada malam kami situ, hal itu pun menimpa ibu. Ibu terpeleset jatuh dari anak tangga yang ada di Taman tersebut, hingga akhirnya ibu terjatuh dan kepalanya mengenai sebuah batu yang lumayan keras dan kepala ibu berdarah. Andai saja malam itu aku tak memaksa ibu untuk ke taman, pasti semua ini tak akan terjadi. Aku hanya bias menahan tangis dan memandangi wajah ibuku. Aku tahu aku lah yang salah.

Semenjak kepergian Ayahku yang entah kemana, kehidupan kami mulai tidak menentu. Ayahku pergi begitu saja dan tak meninggalkan sepeser pun uang untuk kami. Kini aku hanya tinggal berdua dengan ibu dan dengan semua kepedihan ini. Sejak  Ayah meninggalkan kami, sejak saat itulah aku sangat membenci sosok lelaki. Entah mengapa saat bertemu dengan lelaki, aku teringat ayah. Dan itu sangat menyakitkan. Kini aku dan ibu tinggal di rumah yang sangat sempit dan kumuh, karena  rumah yang telah kami diami selama 15 tahun lalu telah di jual Ayah tanpa sepengetahuan Ibu dan membawa uang itu pergi, entah kemana.

Ibu hanya terbaring lemah tak berdaya, dan sekolahku pun kini mulai terabaikan. Karena aku sibuk mengurus ibu di rumah dan sambil bekerja sampingan untuk mencari uang demi keperluan hidup. Makan.
Aku sekarang sudah kelas 3 SMA dan 4 bulan lagi akan mengahadapi ujian akhir. Padahal aku sudah beberapa hari ini tidak berhadir ke sekolah dan itu membuat sebagian guru mulai menanyakan kehadiranku. Aku harus bilang apa? Pada kenyataannya saat ini aku sibuk untuk bekerja dari pukul 09.00 wita sampai pukul 13.00 wita. Setelah bekerja aku hanya di rumah dan merawat ibu. Setelah beberapa hari keadaan ibu mulai membaik dengan obat-obat yang ku belikan dari warung, meski saat ini ibu masih tidak terlalu bisa untuk melakukan hal-hal yang berat. Uang yang kuterima memang tidak banyak, coba saja kalian bayangkan dalam sehari aku hanyadi upah Rp15.000,00 dan uang itu digunakan untuk membeli lauk-pauk serta sayur dan obat ibu. Belum lagi sedikit kusisihkan untuk biaya sekolahku, dan itu sungguh sangat tidak cukup.

Hari-hariku seakan terhujam tajam oleh kehidupan yang kejam. Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan? Aku mulai menghela nafas panjang, apakah ini sebuah keputus asaan. Ah, mengapa akhir-akhir ini aku mulai menylahkan diri sendiri. Mungkin karena aku masih belum bisa memaafkan kesalahanku yang membuat ibu menjadi seperti ini, sakit dan tak kunjung sembuh seperti dulu. Suatu hari ketika aku bekerja di tempatku bekerja, aku bertemu dengan seorang dokter laki-laki. Dan dia kala itu menyodorkan sebuah pamplet kepadaku. Ah, rasanya aku tak ingin menyambutnya. Karena dia laki-laki dan aku benci itu. Tapi berhubung aku dituntut untuk senantiasa sopan kepada para tamu yang masuk ke Warung Makan Permata itu, aku pun menyambut pamplet yang diberikan dokter itu dan sekilas ku baca ada tulisan yang membuatku seakan meluap bahagia “pengobatan gratis”. Tak ku sangka kini aku bisa membawa ibu untuk berobat meski harus melakukan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Rumah Sakit yaitu dengan memfotokopi KTP dan Kartu Keluarga serta minta surat keterangan dari camat dan surat rujukan di puskesmas. Kini ibu akan dirawat dan akan sembuh, oh sungguh Tuhan itu Maha Baik. Dan kini aku pun mulai masuk sekolah kembali setelah 2 minggu lebih aku tidak menghadiri pembelajaran di kelas. Untung saja pihak sekolah tidak mengeluarkanku dan masih memaklumi keadaanku. Meski begitu masih saja ada suara-suara yang mengusik telingaku.

 4 bulan berlalu dan kini masa-masa akhirku berada di sekolah menengah pertama. Dan kini detik-detik ujian pun telah tiba. Rasanya baru sebentar aku berada disini dan kini akan meninggalkan semuanya kenangan indah semasa putih abu-abu. Itu tak akan terlupakan. Ibuku pun kini sudah bisa bekerja seperti biasa yaitu menjual sayur-mayur di pasar. Meski uang yang didapat selalu pas-pas an. Ibu tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Setelah 2 minggu berlalu, kini tinggal menunggu hasil kelulusan. Perasaan tegang dan gelisah mulai menghantuiku karena aku tahu aku tidak terlalu jenius. Biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Dan akhirnya pun tiba ketika ku buka amplop putih itu dan kubaca dengan seksama dan ternyata aku “lulus” langsung aku tertunduk dan menatap mentap wajah ibu lalu memeluknya erat. Sangat erat, aku bahagia. Ibu menatapku dan tersenyum bangga.

Kini aku mulai memikirkan untuk bekerja saja dulu, karena mana mungkin aku bisa kuliah. Aku gak punya dana. Sore sabtu aku mulai menelusuri jalan, barangkali ada lowongan pekerjaan untuk lulusan SMA seperti aku ini. Hampir 2 jam penuh aku dengan sepeda bututku menelusuri jalan yang penuh jejalan motor-motor yang mengeluarkan bau asap dan menyesakkan dada itu. Untung saja aku pakai masker yang menutupi sebagian wajahku dan itu cukup membantu agar debu-debu jalanan itu tak mengotori wajahku.
Ah, aku mulai menghela nafas panjang dan aku mulai menatapi sekeliling tempatku berada. Di pinggiran jalan kota ku ini berjejer toko-toko seperti tempat fotokopian, warung makan dan show-room mobil yang membuatku ingin segera melepaskan surat lamaran yang semenjak tadi berada di dalam tas pink di keranjang sepedaku. Tapi, semenjak aku singgah di toko-toko tersebut, mereka mengatakan bahwa belum ada penerimaan untuk pegawai baru. Aku pun mulai melangkahkan kakiku keluar dari toko-toko tersebut dan mulai mengayuhkan sepeda lagi. Untuk hari ini aku cukupkan perjalanan ku yang sayangnya tak menemukan apa yang aku cari yaitu pekerjaan. Perjalanan pulang hamper begitu sangat sebentar di banding ketika aku mengayuh sepeda di awal tadi, mungkin karena hari sudah mulai menjelang maghrib dan aku pun sampai di rumah ketika adzan berkumandang.
Pagi-pagi sekali aku bangun dan mandi, mengguyurkan air dingin itu ke sekujur tubuhku. Huhh, rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya karena udara pagi ini sangat dingin, karena malam tadi hujan turun dengan sangat deras. Ibu memanggilku dengan wajah yag sangat tulus, “Nak, kemarin ketika kamu pergi. Ada seorang guru kamu yang datang ke rumah. Kalau tidak salah namanya Ibu ana. Dan guru kamu itu menyuruh kamu untuk ke sekolah hari ini pukul 11.00 Wita.” Aku menatap ibu  dan berkata”Tapi kan bu, hari ini aku mau mencari kerja lagi” sahutku seadanya. Ibu ku pun mendekatiku  dan mulai membujukku “barangkali ada hal yang ingin disampaikan Ibu Ana kepadamu Sofi, temui saja beliau.” Aku pun mengiyakan permintaan ibu ku, yah mungkin saja kan Ibu Ana akan mencari kan pekerjaan untukku. Karena ibu Ana adalah seorang guru yang sangat perhatian kepada semua muridnya, apalagi kepadaku. Beliau selalu memberikan nasihat yang penuh kelembutan. Ah, baiklah aku akan ke sekolah sebentar, hanya memenuhi permintaan Ibu Ana. Ku langkahkan kakiku dengan mantap, berharap ada kabar gembira yang dapat ku dengar. Pekerjaan.

................................................................to be continued.................................................................

Jumat, 19 September 2014

Keanggunan Akhlaq

kenggunan sikap dan kecantikan akhlaq membuatmu lebih mempesona, mungkin tak terlihat nampak namun semua yang peka akan dapat merasakannya. Perbaikilah sedini mungkin akan tingkah lakumu yang belum sesuai tuntunan agama. sedikit demi sedikit memperbaiki diri dari hal yang kecil dan mulailah saat ini juga. Dengan sikap konsisten setiap hari dan mempunyai tekad serta komitmen yang tinggi untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ketika Menanti, Maka Bersabarlah...

ketika kita telah memilih untuk menunggu, maka bersiaplah untuk bersabar dalam penantian, bukannya mengeluh apalagi putus asa dengan keadaan. Hidup memang terkadang tidak menjanjikan kepastian yang kita ingini. Namun dengan mempelajari hal yang sederhana kita akan tahu bahwa penantian itu tak sesulit yang kita bayangkan pun tak se enteng yang kita khayalkan. Ia adalah sebuah tekad yang mempercayai keajaiban akan hadirnya itulah sebuah kelengkapan. Maka yakinlah duhai hati, jika Rabb sudah merestui maka penantianmu pun akan terobati dan kebahagiaan itu pun akan menghampiri. Seperti orang yang kehausan dan air pun akan melegakan tenggorokkannya. Maka sabarlah dalam menanti...