Jeans
Terakhirku
Pagi-pagi sekali aku bangun dan
langsung mandi, sarapan dan langsung merapikan diri. Waah, hari ini adalah hari
yang aku tunggu-tunggu. Karena aku dan teman-teman sekelas akan pergi wisata ke
pulau kembang.
“Ayah, aku berangkat dulu ya” (ucapku
sambil memasang tali sepatuku)
“Tunggu sebentar nak, ganti dulu tuh
jeans kamu. Ayah gak suka! Pake rok aja sana” (jawab Ayah)
“Ayah ini, kan aku sudah bilang aku
suka pake jeans, lagi pula ini trend anak muda zaman sekarang’ (jawabku ketus)
“kalau kamu gak dengerin kata-kata
Ayah, kamu gak boleh berangkat!” (sahut Ayahku dengan tegas)
“Maaf Ayah, aku sudah telat nih. Aku
berangkat dulu ya” ( sahutku tanpa memerdulikan Ayah dan langsung pergi dengan
sepeda motorku)
Belum lagi nyampe di tempat
berkumpul dengan teman-teman. Tiba-tiba sepeda motorku mogok dan yang lebih
parahnya itu, mogoknya di tempat yang sepi. Huh, batinku mulai mengeluh dan
menyalahkanku mengapa tadi aku membantah perkataan Ayah. Toh, hasilnya jadi
begini. Untunglah di pertigaan jalan yang hamper 200 meter ku tempuh dengan
mendorong sepeda motorku terdapat bengkel. Ya, syukurlah.
Setelah sepeda motorku diperbaiki,
yang hamper memakan waktu 30 menit. Aku pun bergegas ke tempat berkumpul,
berharap aku tak ditinggal teman-teman. Tapi apalah daya kenyataannya tepat aku
sampai, mereka sudah mengarungi sungai dan menuju pulau kembang. Huh, aku kesal
sekali dan langsung balik ke rumah. Setibanya di rumah aku kaget bukan kepalang.
“ayah, ayah, bangun ayah!” (wajahku pucat melihat ayah tergolek lemas di atas
sofa). Secepat kilat aku langsung menelepon ambulans dan Ayahku pun dirawat di
rumah sakit. Aku bingung, mengapa ayah bisa seperti itu. 1 jam kemudian, dokter
keluar dari ruang kamar ayahku dirawat.
“Dokter, bagaimana keadaan ayah
saya? Apa yang dideritanya dok?” (tanyaku dengan jantung yang berdegup kencang)
“Tenang nak, Ayahmu hanya terlalu
lelah dan terlalu banyak pikiran. Sebaiknya ayahmu istirahat dulu disini sampai
pulih betul” (jawab dokter dan sambil menenangkanku)
Aku pun menarik nafas panjang dan
memikirkan kembali “Seharusnya aku dengar kata-kata ayah tadi, mungkin
gara-gara aku membantah, ini yang terjadi.Ayah maafkan putrimu ini” (gumamku
dalam hati penuh penyesalan).
Aku pun pulang ke rumah mengganti
jeansku ini dengan rok yang diinginkan Ayah. Aku mau setelah siuman nanti Ayah
akan senang melihatku.
Di rumah sakit, belum lagi sempat
aku ke kamar Ayah, tiba-tiba ku lihat beberapa perawat yang berbaju putih-putih
mendorong seorang pasien kea rah ruang UGD. Setelah ku lihat, ternyata itu
Ayah. Akupun langsung mengikuti mereka dengan langkah yang mulai ku percepat. Ya
Tuhan, ada apa dengan Ayahku? Hatiku pun mulai gelisah, menunggu di luar
ruangan itulah yang ku bisa. Sambil berkomat-kamit berdoa; Tuhan aku mohon
sembuhkanlah Ayahku”
45 menit kemudian, seorang perawat memanggilku
dan menyuruhku untuk masuk. Rupanya ayahku sudah siuman.
“Ayah, maafkan aku” (ucapku dengan
berderai air mata)
“sudahlah saying, hapus air matamu.
Ayah tidak apa-apa. Wah, kamu pake rok ya. Nah, kalau gitu kan kamu cantik”
(Sahut Ayahku dengan suara parau dan wajah pucatnya)
“Maafkan aku Ayah, aku janji gak
akan membantah lagi, aku janji gak akan pake jeans lagi”. (jawabku masih dengan
linangan air mata)
“Sayang, Ayah nasihati kamu itu
untuk kebaikanmu juga. Karena Ayah sayang dengan putri cantik Ayah ini” (
Ayahku menjawab dengan senyuman yang begitu manis)
“Iya Ayah, aku juga sayang Ayah. Do’akan
putrimu ini ya Ayah, supaya bisa istiqomah dengan kerudung dan gak pake jeans
lagi” (jawabku sambil menghapus air mataku dengan tissue)
“do’akan Ayah juga ya, Ayah mau
tidur dulu” (Sahut Ayahku sambil menutupkan matanya)
Tak kusangka itu adalah hari terakhirku
bersama Ayah, Ayah tidur dan tak bangun kembali.
Ayah, semoga kau bahagia disana.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar