Sabtu, 01 November 2014

cerpenku ^_^



Jeans Terakhirku
Pagi-pagi sekali aku bangun dan langsung mandi, sarapan dan langsung merapikan diri. Waah, hari ini adalah hari yang aku tunggu-tunggu. Karena aku dan teman-teman sekelas akan pergi wisata ke pulau kembang.
“Ayah, aku berangkat dulu ya” (ucapku sambil memasang tali sepatuku)
“Tunggu sebentar nak, ganti dulu tuh jeans kamu. Ayah gak suka! Pake rok aja sana” (jawab Ayah)
“Ayah ini, kan aku sudah bilang aku suka pake jeans, lagi pula ini trend anak muda zaman sekarang’ (jawabku ketus)
“kalau kamu gak dengerin kata-kata Ayah, kamu gak boleh berangkat!” (sahut Ayahku dengan tegas)
“Maaf Ayah, aku sudah telat nih. Aku berangkat dulu ya” ( sahutku tanpa memerdulikan Ayah dan langsung pergi dengan sepeda motorku)
Belum lagi nyampe di tempat berkumpul dengan teman-teman. Tiba-tiba sepeda motorku mogok dan yang lebih parahnya itu, mogoknya di tempat yang sepi. Huh, batinku mulai mengeluh dan menyalahkanku mengapa tadi aku membantah perkataan Ayah. Toh, hasilnya jadi begini. Untunglah di pertigaan jalan yang hamper 200 meter ku tempuh dengan mendorong sepeda motorku terdapat bengkel. Ya, syukurlah.
Setelah sepeda motorku diperbaiki, yang hamper memakan waktu 30 menit. Aku pun bergegas ke tempat berkumpul, berharap aku tak ditinggal teman-teman. Tapi apalah daya kenyataannya tepat aku sampai, mereka sudah mengarungi sungai dan menuju pulau kembang. Huh, aku kesal sekali dan langsung balik ke rumah. Setibanya di rumah aku kaget bukan kepalang. “ayah, ayah, bangun ayah!” (wajahku pucat melihat ayah tergolek lemas di atas sofa). Secepat kilat aku langsung menelepon ambulans dan Ayahku pun dirawat di rumah sakit. Aku bingung, mengapa ayah bisa seperti itu. 1 jam kemudian, dokter keluar dari ruang kamar ayahku dirawat.
“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya? Apa yang dideritanya dok?” (tanyaku dengan jantung yang berdegup kencang)
“Tenang nak, Ayahmu hanya terlalu lelah dan terlalu banyak pikiran. Sebaiknya ayahmu istirahat dulu disini sampai pulih betul” (jawab dokter dan sambil menenangkanku)
Aku pun menarik nafas panjang dan memikirkan kembali “Seharusnya aku dengar kata-kata ayah tadi, mungkin gara-gara aku membantah, ini yang terjadi.Ayah maafkan putrimu ini” (gumamku dalam hati penuh penyesalan).
Aku pun pulang ke rumah mengganti jeansku ini dengan rok yang diinginkan Ayah. Aku mau setelah siuman nanti Ayah akan senang melihatku.
Di rumah sakit, belum lagi sempat aku ke kamar Ayah, tiba-tiba ku lihat beberapa perawat yang berbaju putih-putih mendorong seorang pasien kea rah ruang UGD. Setelah ku lihat, ternyata itu Ayah. Akupun langsung mengikuti mereka dengan langkah yang mulai ku percepat. Ya Tuhan, ada apa dengan Ayahku? Hatiku pun mulai gelisah, menunggu di luar ruangan itulah yang ku bisa. Sambil berkomat-kamit berdoa; Tuhan aku mohon sembuhkanlah Ayahku”
45  menit kemudian, seorang perawat memanggilku dan menyuruhku untuk masuk. Rupanya ayahku sudah siuman.
“Ayah, maafkan aku” (ucapku dengan berderai air mata)
“sudahlah saying, hapus air matamu. Ayah tidak apa-apa. Wah, kamu pake rok ya. Nah, kalau gitu kan kamu cantik” (Sahut Ayahku dengan suara parau dan wajah pucatnya)
“Maafkan aku Ayah, aku janji gak akan membantah lagi, aku janji gak akan pake jeans lagi”. (jawabku masih dengan linangan air mata)
“Sayang, Ayah nasihati kamu itu untuk kebaikanmu juga. Karena Ayah sayang dengan putri cantik Ayah ini” ( Ayahku menjawab dengan senyuman yang begitu manis)
“Iya Ayah, aku juga sayang Ayah. Do’akan putrimu ini ya Ayah, supaya bisa istiqomah dengan kerudung dan gak pake jeans lagi” (jawabku sambil menghapus air mataku dengan tissue)
“do’akan Ayah juga ya, Ayah mau tidur dulu” (Sahut Ayahku sambil menutupkan matanya)
Tak kusangka itu adalah hari terakhirku bersama Ayah, Ayah tidur dan tak bangun kembali.
Ayah, semoga kau bahagia disana.
                                                            Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar