Rabu, 15 Januari 2014

Tugas TIK

http://www.4shared.com/file/PUivRQzQce/SUPIAH_A1B113009_TIK.html

power point TIK

http://www.4shared.com/file/PUivRQzQce/SUPIAH_A1B113009_TIK.html

Perkawinan Dayak Maanyan di Kalimantan

1.    Suku Dayak Maanyan
Suku Dayak Maanyan

 Orang Maanyan yang baru dibaptis tahun 1920.
Jumlah populasi
kurang lebih 71.000 jiwa
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Kalimantan Tengah: 71.000.
Bahasa
Maanyan, Ngaju, Banjar, Indonesia
Agama
Kristen, dan Kaharingan

Kelompok etnik terdekat
Banjar, Dusun Witu, Paku,Dusun Malang

Suku Dayak Maanyan (olon Maanjan/meanjan) atau Suku Dayak Barito Timur merupakan salah satu dari bagian sub suku Dayak dan juga merupakan salah satu dari suku-suku Dusun (Kelompok Barito bagian Timur) sehingga disebut juga Dusun Maanyan. Suku-suku Dusun termasuk golongan rumpun Ot Danum (Menurut J.Mallinckrodt 1927) walaupun dikemudian hari teori tersebut dipatahkan oleh A.B Hudson 1967 yang berpendapat bahwa orang Maanyan adalah cabang dari "Barito Family". Mereka disebut rumpun suku Dayak sehingga disebut juga Dayak Maanyan. Suku Dayak Maanyan mendiami bagian timur provinsi Kalimantan Tengah, terutama di Kabupaten Barito Timur dan sebagian Kabupaten Barito Selatan yang disebut Maanyan I. Suku Dayak Maanyan juga mendiami bagian utara provinsi Kalimantan Selatan, tepatnya di Kabupaten Tabalong yang disebut Dayak Warukin. Dayak Balangan (Dusun Balangan) yang terdapat di Kabupaten Balangan dan Dayak Samihim yang terdapat di Kabupaten Kotabaru juga digolongkan ke dalam suku Dayak Maanyan. Suku Maanyan di Kalimantan Selatan dikelompokkan sebagai Maanyan II.
Suku Maanyan secara administrasi baru muncul dalam sensus tahun 2000 dan merupakan 2,80% dari penduduk Kalimantan Tengah, sebelumnya suku Maanyan tergabung ke dalam suku Dayak pada sensus 1930
Menurut orang Maanyan, sebelum menempati kawasan tempat tinggalnya yang sekarang, mereka berasal dari hilir (Kalimantan Selatan). Walaupun sekarang wilayah Barito Timur tidak termasuk dalam wilayah Kalimantan Selatan, tetapi wilayah ini dahulu termasuk dalam wilayah terakhir Kesultanan Banjar sebelum digabung ke dalam Hindia Belanda tahun 1860, yaitu wilayah Kesultanan Banjar yang telah menyusut dan tidak memiliki akses ke laut, sebab dikelilingi daerah-daerah Hindia Belanda
Menurut situs "Joshua Project" suku Maanyan berjumlah 71.000 jiwa.
Menurut sastra lisan suku Maanyan, setelah mendapat serangan Marajampahit (Majapahit) kepada Kerajaan Nan Sarunai, suku ini terpencar-pencar menjadi beberapa sub-etnis. Suku ini terbagi menjadi beberapa subetnis, di antaranya:
•    Maanyan Paku
•    Maanyan Paju Epat (murni)
•    Maanyan Dayu
•    Maanyan Paju Sapuluh (ada pengaruh Banjar)
•    Maanyan Banua Lima/Paju Dime (ada pengaruh Banjar)
o    Maanyan Warukin (ada pengaruh Banjar)
o    Maanyan Jangkung (sudah punah, ada pengaruh Banjar)
Keunikan Suku Dusun Maanyan, antara lain mereka mempraktikkan ritus pertanian, upacara kematian yang rumit, serta memanggil dukun (balian) untuk mengobati penyakit mereka.[2]
Bahasa
Bahasa Dayak Maanyan banyak memiliki persamaan dengan bahasa di Madagaskar. contoh bahasa Maanyan adalah
•    kamu = Hanyu
•    Mandi = Mandrus
•    Tidur = manree
Dari tulisan Rolland Oliver dan Brian M. Fagan dalam bukunya "Africa in the Iron Age" tahun 1978, yang mengatakan bahwa orang Maanyan datang dan menetap di pulau Madagaskar pada tahun 945 - 946 M, berlayar langsung melalui Samudera Hindia dengan 1000 buah perahu bercadik. Dan berdasar fakta sejarah setiap bingkai relief di Candi Borobudur mengkisahkan atau menceritakan kondisi Nusantara pada waktu masa kejayaan agama Budha.
Yang menarik, Kerajaan Sriwijaya, NanSarunai dan Majapahit. Dalam perjalanan sejarahnya menggunakan perahu bercadik ini.
Jika merujuk pada buku tulisan Sanusi Pane, Sejarah Indonesia I, tahun 1965 halaman 58 - 59. Kerajaan Sriwijaya memperluas kekuasaannya sampai meliputi wilayah Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah dan Empu Sendok dari Kerajaan Mataram Hindu sedang terdesak sampai ke Jawa Timur dari tahun 929 - 947 M, maka besar kemungkinan ahli sastra/seniman pada masa itu mengabadikan peristiwa tersebut ( orang Ma'anyan melakukan evakuasi besar-besaran dengan menggunakan 1000 buah perahu bercadik pada tahun 945 - 946 M) pada relief-relief Candi.
Organisasi
Organisasi suku ini adalah "Dusmala" yang menggabungkan 3 suku Dayak yang serumpun yaitu Dusun, Maanyan dan Lawangan.
Lagu Daerah Dayak Maanyan
•    Tumpi Wayu
•    Tataku Balinga
•    Miheput
•    NGANO
Suku Maanyan di Kabupaten Tabalong dan Balangan di Kalimantan Selatan


Peta Kecamatan Tanta, di dalamnya terdapat dua desa yang dihuni Dayak Maanyan
Orang Dayak Maanyan Warukin yang sering disebut Dayak Warukin adalah subetnis suku Dayak Maanyan yang mendiami desa Warukin, Haus, dan sekitarnya di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.[3]
Pemukiman Dayak Warukin terdapat dalam daerah kantong/enclave yang di sekitarnya adalah daerah pemukiman suku Banjar.
Dayak Warukin di desa Warukin, Kecamatan Tanta, Tabalong merupakan bagian dari Maanyan Benua Lima. Maanyan Benua Lima merupakan subetnis Maanyan yang terdapat di kecamatan Benua Lima, Barito Timur. Nama asalnya Maanyan Paju Lima. Istilah "benua" berasal dari Bahasa Melayu Banjar.
Upacara adat rukun kematian Kaharingan pada Dayak Warukin disebut mambatur. Istilah ini pada subetnis Maanyan Benua Lima pada umumnya disebut marabia.
Kekerabatan bahasa Maanyan Warukin dengan bahasa Banjar Kuala Lupak (Banjar Kuala) sekitar 50%. Kekerabatan bahasa Maanyan Warukin dengan bahasa Banjar Asam-Asam sekitar 57%.
Di Kabupaten Tabalong ini terbagi menjadi empat wilayah keadatan Dayak, salah satu diantaranya wilayah keadatan Dayak Maanyan yaitu :
1.    Wilayah keadatan Dayak Maanyan di desa Warukin
2.    Wilayah keadatan Dayak Deyah Kampung Sepuluh, meliputi sepuluh desa di kecamatan Upau, Haruai, Bintang Ara.[4]
3.    Wilayah keadatan Dayak Deyah Muara Uya dan Jaro.
4.    Wilayah keadatan Dayak Lawangan di desa Binjai.
Di luar keempat daerah-daerah kantong keadatan Dayak Kabupaten Tabalong tersebut juga terdapat suku Banjar yang merupakan mayoritas populasi penduduk Tabalong dan suku Banjar ini tidak terikat dengan Hukum Adat Dayak.
Seni tari : Tari Giring-Giring.[5]

Upacara adat: 1. Aruh Buntang[6][7]
Dayak Dusun Balangan
Dayak Dusun Balangan adalah subetnis suku Dayak Maanyan yang mendiami perhuluan sungai Balangan di kecamatan Juai dan Halong. Sebagian anggota suku Dayak Dusun Balangan beragama Buddha.[1][2]
Dayak Samihim


Dayak Samihim mendiami kecamatan Pamukan Utara (no. 2), Pamukan Barat (no. 3) dan Sungai Durian (no. 4)
Dayak Samihim adalah subetnis suku Dayak Maanyan yang mendiami daerah timur laut Kalimantan Selatan. Kekerabatan bahasa Samihim dengan bahasa Maanyan sekitar 80%. Kekerabatan bahasa Samihim dengan bahasa Dayak Labuhan sekitar 45%. Kekerabatan bahasa Samihim dengan bahasa Bajau sekitar 46%. Kekerabatan bahasa Samihim dengan bahasa Bakumpai sekitar 51%. Kekerabatan bahasa Samihim dengan bahasa Bukit sekitar 59%.[3] Sebagian Dayak Samihim yang beragama Kristen (Gereja Kalimantan Evengelis) mendiami desa Mangka dibawah pendeta pertamanya Aaron Bingan.[4] Desa lain kediaman suku Dayak Maanyan adalah desa Buluh Kuning, Betung dan lain-lain.
Dayak Samihim memiliki seni musik yang khas yaitu kukurung.


Perkawinan Adat Dayak Ma’anyanBukan Sekadar Pertalian Kekerabatan
Langit yang semula cerah dan panas, tiba-tiba mendung. Angin berembus kencang, seketika terdengar coloteh setiap orang mengomentari perubahan drastis cuaca tersebut. Rintik hujan pun mulai turun, tapi itu pertanda baik. Leluhur hadir dan memberi restu kepada pengantin.Upacara pernikahan merupakan peristiwa sakral yang harus dipersiapkan sungguh-sungguh.Terlebih jika itu adalah prosesi adat yang masih dipegang teguh dalam masyarakat. Bagi sukuDayak khususnya Dayak Maanyan, pernikahan tak sekadar ritual adat yang harus dilangsungkan. Tapi lebih dari itu, juga sebagai pemberitahuan kepada leluhur agar mendapatkan restu dan perlindungan.Meskipun tak lagi menganut agama leluhur, namun upacara adat itu terus dipertahankan, walautak semua prosesi terlaksanakan. Seperti saat upacara adat perkawinan yang dilaksanakan padaJuni lalu di Desa Hayaping, Kecamatan Awang, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah.“Prosesi adat pernikahan ini hanya diambil intinya, kalau sesuai prosesi adat bisa sampai pagi baru selesai,” terang Taim Wentak, seorang tokoh adat Desa Hayaping.Upacara adat pernikahan itu dimulai ketika mempelai pria datang ke rumah mempelai perempuan. Para penari
balian bawo siap menjemput dan mengantar mempelai pria ke pintugerbang rumah sang gadis. Sebelum mempelai pria diterima masuk ke dalam rumah, ada prosesi yang namanya
bariak. Sebuah acara berbalas pantun dalam syair berbahasa Dayak, danmemotong batang tebu/manisan ( banyang ) yang menghalangi jalan di pintu gerbang.Caranya, keluarga mempelai pria menjelaskan maksud kedatangan mereka dengan riak (syair).Keluarga mempelai perempuan menjawab dengan riak , sehingga terjadilah berbalas riak.
Saat bariak  biasanya roh leluhur hadir dan memberi restu melalui tanda-tanda alam. Cuaca yangsebelumnya panas sekali, kemudian berubah menjadi mendung. Awan menjadi hitam, turunhujan rintik.Prosesi itu adalah menanyakan maksud kedatangan dan sejumlah syarat kepada calonmempelai pria sebelum diterima oleh pihak mempelai perempuan. ujar Taim.Karena mempelai telah menganut agama Katholik, maka sebelum acara lamaran diadakan ritualdoa dalam agama Katholik. Kemudian acara dilanjutkan dengan
ngiut tuak tangke , yaitumeminum tuak bersama sebagai penyama rasa dan keakraban sebelum pihak mempelai priamengutarakan maksud kedatangan mereka.
Keagungan Mantir
Tetuha adat hadir dalam prosesi itu. Mereka bertindak sebagai saksi dan penasihat bagi kedua pihak mempelai agar proses lamaran berjalan lancar

3. Menurut kepercayaan orang Maanyan merupakan suatu keharusan apabila usianya sudah memenuhi persyaratan untuk membina sebuah rumah tangga. Dan jenis perkawinan yang ada adalah sebagai berikut :
    Adu Pamupuh, perkawinan yang dilakukan oleh orang tua dari kedua belah pihak yang merestui hubungan pasangan tersebut yang disaksikan oleh Mantir serta Pangulu, akan tetapi tidak diperbolehkan kumpul sebagai suami istri. Hal ini tidak lain dari pada pertunangan, sedangkan upacara perkawinan yang sebenarnya masih mempunyai tenggang waktu yang telah disepakati bersama-sama dari kedua belah pihak.
    Adu Ijari, perkawinan yang dilakukan oleh dua sejoli, yang melarikan diri serta minta dikawinkan kepada wali dari salah satu pihak dari calon mempelai, serta tidak kepada orang tua sendiri. Biasanya pasangan yang Ijari itu menyerahkan bukti berupa cincin, kalung dan sebagainya bahwa mereka ingin dikawinkan. Perkawinan Ijari berasal dari kata jadi atau lari. Dalam perkawinan ini terjadi ketidakcocokan diantara orang tua tapi kedua sejoli tersebut harus dikawinkan.
    Adu Pangu’I, Perkawinan yang direstui oleh kedua belah pihak dari pasangan kedua mempelai. Perkawinan ini dilakukan pada malam hari dengan disaksikan oleh Mantir Epat dan Pangulu Isa beserta dengan wali dari kedua belah pihak.
    Adu Gapit Matei Mano, Ayam yang dipotong ialah dari jenis jantan sebanyak dua ekor. Kedua mempelai duduk diatas 9 buah gong diapit oleh 4 wanita dan 3 pria. Biasanya mereka yang mengapit itu adalah saudara dekat dari kedua mempelai yaitu sepupu sekali. Perkawinan itu disyahkan dengan memercikkan darah ayam dengan daun bayam istambul dan daun kammat, kepada pakaian kedua mempelai. Turus Tajak, atau sumbangan dari para hadirin diberikan pada waktu itu kepada kedua mempelai. Disamping Turus Tajak ada jugahadirin yang memberikan sumbangan berikut melalui petuah akan kegunaan sumbangan tadi kepada kedua mempelai. Petuah yang diberikan itu maksudnya membina rumah tangga yang baik disebut Wawaling. Pada acara perkawinan ini tanpa diakan wadian.
    Adu Gapit Matei Iwek, Pada acara perkawinan ini sama dengan “Adu Gapit Matei Mano”, tetapi binatang korban bukan lagi ayam jantan, melainkan diganti dengan babi atau iwek.
    Adu Gapit Manru Matei Iwek, pada acara perkawinan ini, kedua mempelai sama duduk diatas 9 buah gong, diapit oleh 4 wanita dan 3 pria, ditambah dengan Wadian Bawo. Perkawinan ini adalah sebuah perkawinan yang tinggi nilainya, dalam susunan perkawinan di daerah Kerajaan Nansarunai. Perkawinan ini disertai oleh hukum adat yang harus dituruti oleh kedua mempelai.
Ketentuan hukum adat itu adalah :
    Hukum Kabanaran 12 rial
    Hukum Pinangkahan, artinya ialah kedua mempelai harus membayar denda perkawinan bilamana wanita menikah lebih dahulu dari kakaknya.
    Hukum adat, harus memberikan hadiah kepada pihak kakak atau nenek mempelai wanita, bilamana yang bersangkutan masih mempunyai kakek atau nenek yang masih hidup.
    Pihak mempelai pria harus mengeluarkan pakaian lengkap kepada mempelai wanita.
Acara perkawinan ini dilengkapi dengan namuan gunung perak, yaitu sebagai pelengkap wadian bawo. Lama perkawinan ini adalah 2 hari, 2 malam.
Pada acara perkawinan ini ada upacara yang dinamakan Nyamm’a Wurung Ju’e. Hal ini sebenarnya mencari kedua mempelai dari antara para hadirin untuk dipersandingkan diatas gong yang telah disediakan.
Acara Nyamm’a Wurung Ju’e bila yang dicari mempelai wanita maka disebut “Mintan Wurung Ju’e”, sedangkan untuk mencari mempelai pria disebut “Mulut Wurung Ju’e”. Acara mencari kedua mempelai ini disaksikan oleh Mantir dan Pangulu, setelah kedua mempelai yang sebenarnya ditemukan oleh wadian mereka lalu disuruh duduk diatas gong yang diapit oleh 4 wanita dan 3 pria. Peristiwa itu disaksikan mantir dan pangulu serta para kaum kerabat dan hadirin yang hadir.
catatan : Real adalah mata uang bangsa Arab, yang dipakai sebagai alat jual beli ketika orang Maanyan berdagang dari Kalimantan Selatan hingga ke Madagaskar dari abad ke-10 sampai abad ke-14.
Mantir dan Pangulu memercikkan atau mamalas darah babi kepada kedua mempelai, beserta memberi wawaling dan hadirin memberi Turus Tajak.
Wawaling dan Turus Tajak diberikan sebagai langkah awal kedua mempelai membina rumah tangga yang baik dan sempurna untuk kemudian hari.
Dalam perkawainan Adut Gapit Manru Matei Iwek ini ada acara yang dinamakan “Pagar Tonnyo’ng” yaitu didepan pintu pagar rumah calon mempelai wanita, keluarga dari calon mempelai pria mengucapkan syair-syair semcam puji-pujian yang disambut oleh pihak keluarga calon mempelai wanita dengan penuh penghargaan yang tulus atas kedatangan keluarga calon mempelai pria. Keluarga calon mempelai pria membawa hantaran berupa, lemang yang dibawa oleh orang membawa tombak. Batang-batang lemang ditaruh didalam kantongan dibelakang pemegang tombak.

Kalimantan Tengah merupakan daerah yang banyak menyimpan beragam budaya yang kaya nilai tradisi. Beragam upacara adat yang mewarnai kehidupan masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah sampai sekarang masih banyak kita jumpai dan tetap dipertahankan kelestariannya.. Salah satu upacara adat tersebut adalah upacara perkawinan yang dilaksanakan oleh suku Dayak Maanyan yaitu salah satu sub etnis suku Dayak di Kalimantan Tengah.

Peradaban manusia menempatkan perkawinan sebagai peristiwa sakral dan personal, tetapi penuh muatan kultural dan spiritual. Manusia sebagai mahkluk berbudaya mengenal adat perkawinan yang di patuhi untuk memperoleh pengakuan secara sah dari masyarakat atas   pemenuhan kebutuhan jasmani dan rohani bersama manusia lain lawan jenisnya. Perkawinan merupakan tata kehidupan sosial yang mengatur hubungan pria dan wanita sehingga tidak menjadi pergaulan seperti dunia binatang.

Perkawinan merupakan hal yang sangat penting bagi pria dan wanita dalam lintasan hidupnya. Mengingat pentingnya upacara perkawinan tersebut, baik bagi yang bersangkutan maupun bagi anggota kerabat serta masyarakat sekitarnya, maka sudah selayaknya bila upacara itu diselenggarakan secara khusus, menarik perhatian dan disertai dengan kekhikmatan.

Adapun hal-hal yang membuat suasana upacara menjadi khusus, menarik perhatian, khidmat serta mewah dan meriah dapat di dukung oleh tata busana, tata riasnya baik tata rias wajah maupun rambut serta assesorisnya atau kelengkapan busananya. Dimana hal-hal tersebut juga mengandung lambang-lambang dan makna tertentu sebagai pengungkapan pesan-pesan hidup yang hendak disampaikan. Karena kita tahu bahwa upacara adat, tata busana, dan tata rias baik wajah maupun rambut pengantin tradisional merupakan khasanah budaya bangsa yang sangat kaya dan beraneka ragam, yang telah tumbuh dan berkembang selama berabad-abad. Tiap daerah memiliki pola dan corak kebudayaan masing-masing, namun dalam proses perkembangannya senantiasa mengalami perubahahan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan jamannya.

Namun perubahan tersebut diharapkan tetap dapat memberikan hasil kreasi baru yang dapat di tawarkan kepada masyarakat tanpa meninggalkan atau menghilangkan landasan tradisi dan sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Estetika berbusana dengan rancangan yang indah dan menarik merupakan pancaran pola perilaku budaya yang merupakan perwujudan identitas suatu daerah, sehingga masyarakat mengetahui dengan jelas busana dengan kelengkapannya yang di dukung dengan penataan rambut serta aksesorisnya yang telah di sesuaikan.
Sebagaimana telah diterangkan pada ceritera terdahulu bahwa setelah adat istiadat dan peraturan hidup di Sani Sarunai diterapkan oleh Nini Punyut ( Etuh ) dan mulai dibudayakan dimasyarakat, Nini Punyut meninggal dunia.
Dilanjut oleh Amah Jarang (anaknya) mengajak masyarakat membangun kehidupan bersama – sama berlandaskan hukum adat dan peraturan yang sudah mereka akui. Maka tercapailah kemakmuran dan keadilan untuk seluruh masyarakat Sani Sarunai. Dibangun Balai Panung ( Mahligai ), Pamungkulan, Pantar, Panti Jagat, Balai Adat, Mangguntur, lapangan olah raga dan lain – lain. Maka ramailah Sani Sarunai berpuluh – puluh tahun bahkan beratus – ratus tahun sehingga tersebarlah berita kemakmuran Sani Sarunai ke daerah lain.
Namun pada suatu hari datang seekor burung elang yang diserupai oleh Roh air tetesan ke enam dari puncak Gunung Madu Rahu ditanah kejadian dulu dan elang tersebut menari diatas kepala Amah Jarang sambil menagis, pertanda ada bahaya besar menimpa Kota Sani Sarunai. Oleh karena itu Amah Jarang mengumum kepada seluruh masyarakat agar berjaga – jaga sebab bahaya besar akan menimpa kota mereka. Masyarak adat kehidupannya tidak ada angkatan perang khusus hanya keamanan ditanggung bersama berdasar kesatuan masyarakat. Tidak berapa lama dari kejadian elang tersebut,. Tiba – tiba datang ratusan kapal perang dari seberang lautan dengan membawa serdadu penuh dengan kelengkapan senjata tombak, keris, pedang kalewang, langsung mendarat menyerbu kota Sani Sarunai maka terjadilah pertempuran sengit sambil bakar membakar. Maka terjadilah banjir darah, lautan api menimpa kota Sani Sarunai disertai hiruk pikuk, pekik teriak, datangah pertempuran seru itu, hanya Ave dan Silu sempat melarikan diri serta membawa cupu tempat minyak dan kapas dari hasil tetesan ke tiga air dari puncak gunung madu Rahu ditanah kejadian, dan sempat mematah pucuk kayu yang dapat menghidupkan orang yang sudah mati, hasil dari tetesan pertama air dari puncak Gunung Madu Rahu ditanah kejadian dulu. Setelah kota Sani Sarunai hancur jadi abu dan penuh dengan darah, pulanglah pasukan dari negeri seberang itu dengan meninggalkan komandan pasukan mereka yakni Tuan Pudayar gugur dalam pertempuaran itu terbunuh oleh Sangumang ( Pasungan/Kilip ). Setelah kapal perang dari negeri seberang habis pulang kembalilah Silu dan Ave dari tempat persembunyian mereka, melihat mayat Pangunraun Jatuh, Ngampet Malem Balah Riwu beserta seluruh rakyat Sani Sarunai bergelimpangan tumpang tindih , susun menyusun, maka segera Silu dan Ave memilah mayat musuh dan mayat penduduk Sani Sarunai, langsung menabur minyak dari cupu yang mereka bawa lari itu ke seluruh mayat yang ada. Kecuali mayat – mayat musuh, antara lain mayat Tuan Pudayar. Lalu mereka berdua mengipas dengan pucuk kayu saramelum yang sempay mereka patahkan waktu mereka lari itu.
Setelah dikipas, terbangunlah semua mayat – mayat Pangunraun itu serta rakyat lainnya. Hanya sayang pohon kayu saramelum itu ikut hancur terbakar, jadi tidak ada dilestarikan sampai sekarang. Setelah bangun hidup kembali mereka berkumpul musyawarah mencari tempat mereka pindah, maka bercerai berailah pendapat mereka. Pangunraun Jatuh naik ke Gunung Rumung, Maraja Haji berangkat ke Matahari terbit / hidup, Pasungan ( Sangumang ), Nalau, Ave dan Silu, Gayuhan mudik Barito, dan Gantang, Supak Sangkanak ke matahari terbenam ( arah barat ). Maka pecahlah mereka dari Sarunai dan mengadakan kelompok hidup masing – masing tidak diketahui tempatnya.
Hanya yang kami ketahui didapat ceritera riwayatnya dari orang tua kami ( Nenek / kakek ) kami yakni Pangunraun Jatuh, karena mereka naik ke Gunung Rumung, Gumi Ipah Bawi, yakni didaerah Amuntai, sekarang Kabupaten Hulu Sungai Utara , ada sampai sekarang dibuktikan dengan Candi Laras, itu bekas tumpuk Gunung Rumung, Gumi Ipah Bawi, yaitu kota perpindahan Pangunraun Jatuh dari Sani Sarunai yang hancur lebur itu.
Riwayat kehidupan Pangunrau di Gunung Rumung setelah mereka memasuki hutan yuang disebut waktu itu Gunung Rumung. Mulailah mereka membabat hutan, mengadakan perladangan sambil mengurbankan berbagai binatang peliharaan yang mereka bawa masing – masing dari Sani Sarunai waktu mereka bertebaran mengikuti arah tujuan hidupnya maisng – masing. Bibit dan binatang peliharaan tersebut sisa dari kehancuran di sani Sarunai yang sangat mengesankan dalam ceritera ini, bahwa di Gunung Rumung ini sangat sulit mencari air. Oleh sebab itu mereka sangat sulit mengatur hidup. Pada malam hari bermimpilah Amah Jarang datang dari Roh Dewa Dewi dari tetesan air yang ke enam, memberi petunjuk agar Amah Jarang membakar dupa kemenyan dan mencampur biji beras dengan minyak dan kunyit, supaya beras tersebut kuning dan menabur sebagai pesuruh menuju Roh tetesan air yang ke lima dari tanah kejadian dulu, supaya tersebut bisa memberi petunjuk dimana bias mendapat mata air yang bias mencukupi kehidupan mereka.
Setelah bangun, lalu dilaksan Amah Jarang sesuai mimpi itu. Dengan tiba – tiba datang seekor elang dan terbang berputar – putar diatas sambil berbubnyi kuik – kuik, pertanda keriangan. Lalu dicoba Amah Jarang mengikuti terbang elang tersebut, ternyata terbangnya mendaki sebuah bukit, terus saja diikuti Amah Jarang mendaki bukit itu, yang nama waktu itu Gunung Karunrung Watu, Saing Liang Kayun Tahan. Setelah sampai ke puncaknya, ternyata memutar – mutar elang itu sambil berbunyi kuik – kuik, tanda kesukaan. Setelah Amah Jarang meneliti dengan cermat, ternyata dibawah dia terbang berputar itu, ada onggokan batu – batu besar. Setelah Amah Jarang melihat dibawah onggokan batu itu, dan ternyata mata air dibawahnya. Itulah mata air yang disebut waktu itu ” Ugang Amah Jarang ” . Dari mata air itulah mereka bisa bertahan membikin kampung, lama – kelamaan menjadi kota, itulah disebut Tumpuk Gunung Rumung, Gumi Ipah Bawi.
Lama kelamaan bersemarak kemakmuran tumpuk Gunung Rumung hanya sayang penduduknya tidak sebanyak di Sani Sarunai karena pada musyawarah mencari tempat perpindahan berpecah pendapat dan mereka pecah bertebaran mengikuti pendapat masing – masing , seperti yang telah diceritera terdahulu, kelompok Marajahaji berangkat ke arah timur, kelompok Supak, gantang dan Sangkanak berangkat kea rah Barat dan pasungan ( Sangumang ) , Silu dan Ave, Nalau dan gayuhan membawa kelompok mudik sungai Barito. Sedangkan Pangunraun Jatuh naik ke Gunung Rumung ini. Itulah kemakmuran, keramaian di Gunung Rumung, tidak seramai di Sani Sarunai dulu. Disini kembali saya ceritera kelanjutan kehidupan mereka di Tumuk Gunung Rumung, menurut ceritera almarhum nenek saya RADEN BUNTU (anak RADEN SUTANEGARA, cucu RONGGO SUTA UNO ). Nenek saya ini meninggal dunia tahun 1953 di Desa Talekoi.
Kelanjutan ceritera ini sebagai berikut : setelah Pangunraun Jatuh ini merasa cukup kuat perekonomian mereka hasil dari pertanian mereka, timbul permufakatan, mereka ingin mengadakan penyerangan balasan jke Negeri seberang ingin mengambil Dara Amas Tukal Banang, Suraibu Mirah Rawai Wali, yang tertawan oleh serdadu negeri seberang pada perang Sani Sarunai dulu. Kembali disini perlu saya ceritera ulang pada perang Sani sarunai, seorang wanita yang cantik sekali bernam Dara Amas Tukal Banang, Suraibu Mirah Rawai Wali yang tertangkap hidup, dia ini isteri pejabat adat di Sani Sarunai dulu, dan kepala suaminya dipotong dan dibawa pulang oleh serdadu negeri seberang sebagai tebusan ( ganti ) komandan mereka yakni Tuan Pudayar yang gugur pada pertempuran Sani sarunai itu, yang membunuh Tuan Pudayar itu adalah Pasungan (Sangumang) demikian ceriteranya.
Setelah permufakatan rampung, berangkatlah mereka dengan memamakai kendaraan yang disebut pada waktu itu Banawa Samau, kendaraan itu mereka buat bersayap, sehingga di air bisa meluncur, diudara bisa terbang, yaitu setelah peluncuran diair berkecepatan lebih tinggi dengan sayapnya dia bisa terbang meleset ke udara. Maka dapat kita renungkan sekarang, bagaimana bentuk kendaran mereka itu. Disini perlu saya terangkan, manusia dulu tidak makan garam jadi makan mereka ringan – ringan tidak seperti kita sekarang, adanya manusia Dayak ini bisa makan garam datang dari bawaan budaya Hindu, manusia asli Dayak belum mengenal garam. Demikian ceriteranya. Selanjutnya setelah mengarungi lautan luas kadang – kadang meluncur diair, kadang – kadang meleset terbang maka sampailah mereka pada malam hari.
Langsung Anggar menyerbu benteng pertahanan musuh pada malam itu juga maka berkatalah Anggar dalam bahasa Janyawai ” Banawa Jawa Nunung Hatumanri, Minau tahik Uras Galis Kayem, Luwan Nguliungut Tangis Here Jawa, Kala Apen Wanie Daya Panai Anggar Nyujuk Ieng Malem “. Singkatnya pertempuran berkecamuk, hancurlah negeri seberang itu. Namun hanya satu pemuda negeri seberang itu yang tidak mempan senjata dan tetap bertempur melawan mereka. Membentang pinai maleh, Jarang menghadapi pemuda itu .. engan bahasa Janyawai ” Saluang Ipanrapis Bemeng Umpe Jumpun Nikulawit, Kaleh Jarang Ahu Ngawuwenseng Ngitus Jawu Pamatang Langit. Saluang Ipanrapis Bemeng Umpe Jumpun Ni Sikulu, Kaleh Jarang Aku Ngawuwenseng Ngitus Jawu Pamatang Uwu ” mendengar itu membalas pemuda tadi ” Minai Tuak Aning Erang Asek Raru anri Wulu, Memai Pangkan Aku Mula Maleh Wuri Datu Hingka Tane Nansarunai. Tuak Aning Aseh Erang Asek Raru Anri Wulu Wurung , Pangkan Paning Aku Mula Maleh Wurie Datu Teka Tane Gunung Rumung “. Setelah mendengar pinai pemuda tadi, berkata Jarang, gencatan senjata sebentar untuk berunding. Setelah buka perundingan dengan pemuda tadi, mengapa pinai demikian bunyinya ? saya ini anak Dara Amas Tukal BanangSauraibu Mirah Rawai Wali, yang masih dalam kandungan almarhum ibu ku, ikut tertawan pada perang Sani Sarunai dulu. Almarhum ibu menceritakan padaku perang sarunai itu, kepala ayahku dibawa mereka sekarang ada padaku.
Mendengar perkataan pemuda itu, jarang lalu menangis dan merangkul pemuda itu sambil berkata, kau ini adik sepupu kami karena ibumu itu bersaudara dengan ibu kami, kami adalah penyerang dari Gunung Rumung yang asal dari Sani Sarunai yang hancur itu, mana ibu itu ?. pemuda itu menyahut, aku ini bernama Paning ibuku sudah meninggal, mendengar perkataan Paning ituJarang mengajak mereka membongkar kuburan ibu Paning dan tulang belulangnya dikumpul dengan kepala ayah Paning yang terpenggal dulu dan dibawa beserta adik sepupu mereka ini pulang ke Gunung Rumung. Demikianlah secara singkat hasil penyerangan mereka ke negeri seberang.
Disini ceritera kehidupan di Gunung Rumung sudah menyerang negeri seberang, setelah mereka pulang dari negeri seberang mereka kembali mengadakan pembangunan bermacam – macam bangunan pada masa itu antar lain : Panti, Pantar, Tuga, Tungkup, Panungkulan, Balai, Parung, Malegai, Balai Pidudusan dan candi. Maka sekarang ada bukti di daerah Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan yang disebut Candi Laras. Itu bekas kerajaan Masyarakat Adat pada masa Pangunraun Jatuh hidup di Gunung Rumung mendekat masa terakhir, kehidupan di Gunung Rumung para Datuo dan para Dara semakin habis meninggal dunia tinggal para Pangunraun yakni : Idung, Jarang, Tangkai, Talengo, Iban, Bangkas, Patis, Anyawungan, Anggar, Paning. Dalam masa yang singkat datang lagi penyerangan dari negeri seberang dibawah pimpinan Patih Gajah Mada. Dalam pertempuran yang sengit Paning yang tidak ikut berkelahi dia berusaha mereda pertempuran itu akhirnya dapat ditengahi, sehingga berdamailah mereka dengan perjanjian :
1. Masyarakat adat masih berhak mengatur tata kehidupan mereka di Gunung Rumung.
2. Masyarakat adat diharuskan membayar upeti setiap tahun ke negeri seberang.
3. Agama Hindu harus diperkenankan berbaur dengan pengaturan adat.
4. Ajaran agama Hindu di bidang tata kenegaraan harus diterima oleh masyarakat adat.
5. Pengaturan kehidupan berbentuk kerajaan, tapi dibawah kerajaan negeri seberang, penmgaturanya dibagi tiga :
a. Dibidang agama dan adat istiadat diatur oleh Demang
b. Dibidang pertahanan dan keamanan diatur oleh Tamanggung
c. Dibidang sisial ekonomi, budaya dan lingkungan hidup dan lain – lain diatur oleh Patinggi.
Setelah diakui bersama permufakatan ini lalu mengangkat sumpah supaya sama – sama mentaati perjanjian itu karena waktu itu belum ada tulis menulis karena belum ada pendidikan abjad dan rumah sekolah. Dari hasil musyawarah ini Paning digelar oleh sudaranya ” Paning helang Ranu, Turus Helang Watang ” setelah selesai mengangkat sumpah pulanglah Patih Gajah Mada ke negeri seberang dengan meninggal para pendeta Hindu. Maka berbaurlah adat istiadat dan peraturan yang ditinggal Nini Punyut ( Etuh ) dengan adat istiadat yang diajar agama Hindu. Timbullah tata kemasyarakatan berkasta ( bertingkat ) yaitu tingkat tinggi, menengah dan tingkat rendah, yang antara lain dalam bahasa Ma’anyan ” Putak Amau ( bangsawan ), Manrama’an ( Maratawan ), Putak Ime ( walah ) yang artinya budak “. Setelah kehidupan masyarakat berkasta atau bertingkat ini tidak sesuai dengan ajaran Nini Punyut maka mulailah kehancuran Gunung Rumung karena dalam hati para Pangunraun tidak setuju hidup berkasta itu kerena banyak hak azazi yang diajar Nini Punyut terlanggar antara lain : Azazi para Walah (budak), suram oleh para bangsawan oleh karena itu berangsur – angsur (satu demi satu) Gunung Rumung akhirnya habis menghilang atau dalam bahasa Ma’anyan gaib yang artinya lati tidak tahu tempatnya maka tidak ada kuburunya. Adapun Damung, Tamanggung, patinggi yang terakhir memegang pimpinan di Gunung Rumung ini dalam ceritera nenek dulu yaitu :
1. Damung Mangkurap
2. Tamanggung Jaya Sungkat
3. Patinggi Tambing Baya raya
Setelah para Pangunraun habis menghilang ( Gaib ) berangsur – angsur keadaan Gunung Rumung mundur lalu mulai perpecahan. Damung Mangkurap membawa sebagian pindah ke Kayu Tangi di Martapura, Tamanggung Jaya Sungkat membawa sebagian masyarakat pindah ke Hulu Tabalong yaitu daerah Dayak Bukit Labuhan, mereka disebut Banua Lima. Patinggi Tambing Baya Raya membawa sebagian masyarakat ke daerah Sungai Patai yang disebut sekarang Barito Timur. Demikian perpecahan Gunung Rumung menurut ceritera nenek yang dapat saya uraikan disini.
Jadi yang dibawa Patinggi Tambing Baya raya ini pecah menjadi 3 (tiga) wilayah semula disebut :
1. Paju Epat
2. Kampung Sapuluh
3. Dayu
Nah diselidiki dari bahasa sangat menetukan, Ma’anyan Banua Lima dan Banjar masih berasal dari serumpun bahasa karena masih banyak persamaan, jadi dapat saya percaya ceritera nenek itu mungkin benar suku – suku ini berasal dari 1 (satu) keturunan yaitu Gunung Rumung.
F. RIWAYAT PATINGGI TAMBING BAYA RAYA MEMBAWA MASYARAKATNYA KE PATAI SERTA ADAT BUDAYANYA.
Setelah mereka sampai sungai Patai mereka mulai membabat hutan dengan mengorbankan berbagai binatang peliharaan yang mereka bawa dari Gunung Rumung antara lain kerbau, babi, ayam dan lain – lain untuk darahnya pengalas tanah air yang baru mereka masuki ini karena daerah ini hutan belantara. Menurut adat dan aturan yang diajar Nini Punyut ( Etuh ) dulu waktu mereka pindah dari Laliku Maeh ke Sani Sarunai dulu harus mengorbankan ternak untuk darahnya mengalas tanah air yang baru mereka masuki, untuk tanah air yang baru mereka masuki itu bisa memberi ketenangan dan penghasilan yang melimpah ruah demi kehidupan mereka.
Demikian mereka memulai tata kehidupan ditempat baru ini, mulailah mereka membuat lading, kebun buah – buahan dan lain – lain dengan bergotong royong bersama – sama yang disebut ” Anrau Iram Saluk Matu ” serta memulai mengusaha hasil hutan antra lain rutan diambil untuk bahan anyaman membuat bakul , keranjang, tikar, lampit, lanjung dan lain – lain guna perlengkapan perkakas rumah tangga. Bakul untuk piring nasi disebut ” Tana’ihan “” Wange Luen ” dari tempurung juga dibelah dibuat jadi sendok gulai disebut ” Pisabuk Luen ” dari kayu dibuat (Dibelah) dan bibikin tipis ujung seperti papan, bulat pangkal untuk sendok nasi disebut ” Waruh ” untuk mengambil air dari kali atau dari sumur dibuat dari buah kelapa tua, dibikin lobang dimukanya selolos ibu jari buah kelapa tersebut direndam dalam air sampai hancur membusuk isinya kemudian baru dibersihkan dibikin tutup bundar kulit kelapa lain dan diberi lobang kecil sepotong belahan kayu kecil dan panjangnya kira – kira 5 cm, lalu ikat kedua ujung rotan kecil tadi pada tengah potongan kayu tadi dan masukan kedalam lobang tempurung yang lolos ibu jari tadi, dan lipatan rotan ujungnya masukan kedalam lobang tutupnya sehingga bisa dijinjing dari ujung lipatan rotan tadi. Alat pengambil air ini disebut ” Wangku “.
Hasil hutan lainnya antara lain membikin perahu yang seperti sampan (banawa) dipakai mereka menyeberang dari Gunung Rumung untuk menyerang negeri seberang dulu hanya perahu ini tidak bersayap, ini adalah alat transportasi air yang disebut ” Jukung ” . Maka sampai sekarang terkenal jukung patai dan sampai sekarang ramai diperjual belikan sebagai sumber usaha pertama yang membudaya pada suku masyarakat adat Ma’anyan, suku lain adalah meniru dari suku ini. Mengenai transportasi darat belum ada kepandaian selain menjinjing, memikul dan memapak ke punggung dengan kekuatan tenaga. Alat penerang mereka diambil dari dari damar dihutan dan mereka tumbuk jadi tepungdijemur sampai kering, dibungkus dengan daun pisang diikat, pangkalnya terbuka ujung atas dan dibikin memanjang seperti ruas bambu, tempat menyalakannya dibuat papan dari kayu ± 50 cm ditengahnya dipahat lobang 5 cm persegi, dilobang ini didirikan patung ± 40 cm – 50 cm didata patung dibuat lobang lagi ± 4 cm persegi pada lobang ini dimasukan 1 (satu) buah potongan kayu dibelah dua yang panjangnya ± 20 cm – 25 cm sebagai tanggannya, diantara kedua tangan ini dijepit bungkusan damar tadi baru dinyalakan, ini disebut ” Jangkaramai “.” Teluk Ma’anyan ” selama 7 hari 7 malam Damung Baning bertapa dengan rakit gedang pisang yang besar – besar tujuh potong gedang pisang untuk membuat rakit.
Pada malam ke 7 (tujuh ) angin rebut, guntur petir, hujan lebat, tiba – tiba muncul dari dalam air diteluk tersebut perlahan – lahan kepala manusia lengkap dengan lawung lawai semakin lama semakin keluar badannya. Setelah dilihat seorang wanita cantik lengkap dengan pakaian dukunnya lalu minta disambut oleh Damung Baning, gong tempatnya duduk dan kangkanung tempatnya berpijak tujuh buah, namun terlepas 2 (dua) hanya 5 (lima) yang sempat diangkat. Itulah asal Agung Garinsingan, Kangkanung Nyiang Lengan, pusaka orang Dayak Ma’anyan tapi benda tersebut entah dimana sekarang tidak diketahui tempatnya. Adapun wanita tadi sengaja diberi Dewa Dewi untuk Dukun Balian Pangunraun, guna melaksnakan adat istiadat yang menyangkut roh tetesan ke lima dan roh tetesan ke enam dari tanah kejadian dulu ( di Tane Tipak Sulau )
Nama wanita ini ” Gumantartutup ” ayahnya Dewa, Damung Ulin, Uria Rajadina ibunya, Dewi Bintang Wayang Putri Igal Gamung. Ceritera inilah asal usul Wadian Rama dan dari pertapaan Damung Baning ini baru mendapat nama Suku Dayak Ma’anyan sebelumnya disebut Suku Dayak Pangunraun. Sesudah semua mengakui nama sukunya, Putri Gumantartutup ini mulailah Ma’anyan bertebaran Damung Baning, paris Mawuyung, Tunjung Aneh Matu, mangku Jaya, ke Paju Epat, Tamanggung Sangar Wasi, ke kampong sapuluh, Damung jaya Abeh ke Dayu, Ngabe Timpang ke Banua Lima.
Meskipun bertebaran, tetap sukunya Dayak Ma’anyan pada pertengahan penjajahan Hindu dari Jawa, datang dari Timur Tengah, Uria Pitu ( 7 ) mereka ini panglima perang dari Timur Tengah sengaja datang untuk mengajar ilmu perang kepada kita. Ilmu yang diajarkan silat dan ilmu kekebalan terhadap senjata tajam. Uria Pitu ( Panglima Perang ) ini bersaudara sebanyak 7 (tujuh) orang yaitu :
tempurung kelapa untuk tempat gulai disebut Kalau untuk jalan malam tidak bisa mamakai damar tersebut, tapi diambil teras kayu kering dijemur kering – kering baru dinyalakan pada malam hari bila mau berjalan ini disebut ” Belun ” tapi kalau di Sani Sarunai dulu bila mereka mau berjalan malam mereka mencari sepotong kayu rapuk yang dibalut oleh cendawan sinar yang disebut ” Kulat Kumala ” itu untuk mereka berjalan malam. Perlu saya terangkan baru setelah mereka di Patai ini mereka mulai mengenal makan garam karena dibawa oleh pedagang suku Bakumpai di negeri Patai ini, Damung Baning bertapa disebuah teluk muara Sei Telang dan Siung, teluk yang besar disebut
1. Uria Damung Napulangit, mengajar ke Paju Epat
2. Uria Puneh, mengajar mudik Barito
3. Uria Renda, mengajar ke kampong sapuluh sampai dengan Banua Lima
4. Uria Ratau, mengajar ke Dayu, Paku Karau, Lawangan
5. Uria Biring ( Maholi ), mengajar ke Tabalong, Labuhan, halong, Balangan sampai dengan Dusun Tumang
6. Uria Bunan, mengajar ke Martapura sampai dengan Banjarmasin
7. Uria Pulanggiwa, mengajar ke Kapuas dan Kahayan
Untuk lebih jelasnya keturunan dari ke tujuh uria diatas, dapat anda lihat pada Jereh ( Silsilah ) keturunan yang saya lampirkan pada buku ini.
Sampai disisni ceritera asal usul Dayak Ma’anyan yang saya ingat dari ceritera almarhum nenek saya Raden Buntu ( Tu Medan atau Ibu Pananda Ch. Luran ). Nenek ini anak Raden Suta Negara ( cucu Ronggo Suta Uno ) di kampung Telang Lama, yakni yang empunya Tamak Mas yang ada di Telang Lama sekarang. Adapun saya yang mengurai dan sebagai nara sumber ini adalah anak A. Guse adik perempuan dari Ch. Luran (Bp. Gubib) dan yang membukukan ceritera ini adalah anak M. Ruhini ( cucu dari A. Guse ).

Tugas TIK

Jumat, 03 Januari 2014

mimpi kecil ku...

my dream...


ada sebuah mimpi disini, dan sedikit asa aku ingin mimpi itu terwujud.. sebuah mimpi gadis kecil.

tak banyak kata yang bisa ku ungkapkan, hanya doa yang selalu ku panjatkan berharap Rabb ku akan mengabulkan. aku terus bermimpi dan bermimpi ,,, karena dengan mimpi aku mencoba tuk hadapi hari dengan penuh optimis dan semangat.. biar orang mengatakan aku gila, karena mungkin mimpiku tak wajar, biarlah ... toh, ini mimpiku dan aku yakin bisa menjadikan itu fakta jika Allah mengizinkan..mimpi semua orang pasti punya mimpi,.. ter spesial untuk mimpiku @my little star