Malam semakin
larut, namun mataku masih saja tak bisa dikatupkan. Seminggu sudah ibuku
terbaring lemah di tempat tidur. Aku tak tahu pasti sakit apa yang diderita
ibu. Karena sampai saat ini kami belum bias membawa ibu ke rumah sakit karena
ketiadaan biaya. Hanya pengobatan tradisional saja yang bias kami lakukan, yang
lebih murah biayanya. Aku tahu, seharusnya sebagai seorang anak bias menjaga
ibu dengan baik. Tapi pada kenyataannya akulah penyebab dari sakit yang
diderita ibu. Aku sangat sedih karena kebodohanku yag memaksa untuk naik
Bianglala membuat ibu terpaksa ikut menemaniku ke Taman Raya pada malam kami
situ, hal itu pun menimpa ibu. Ibu terpeleset jatuh dari anak tangga yang ada
di Taman tersebut, hingga akhirnya ibu terjatuh dan kepalanya mengenai sebuah
batu yang lumayan keras dan kepala ibu berdarah. Andai saja malam itu aku tak
memaksa ibu untuk ke taman, pasti semua ini tak akan terjadi. Aku hanya bias
menahan tangis dan memandangi wajah ibuku. Aku tahu aku lah yang salah.
Semenjak kepergian
Ayahku yang entah kemana, kehidupan kami mulai tidak menentu. Ayahku pergi
begitu saja dan tak meninggalkan sepeser pun uang untuk kami. Kini aku hanya
tinggal berdua dengan ibu dan dengan semua kepedihan ini. Sejak Ayah meninggalkan kami, sejak saat itulah aku
sangat membenci sosok lelaki. Entah mengapa saat bertemu dengan lelaki, aku
teringat ayah. Dan itu sangat menyakitkan. Kini aku dan ibu tinggal di rumah
yang sangat sempit dan kumuh, karena rumah yang telah kami diami selama 15 tahun
lalu telah di jual Ayah tanpa sepengetahuan Ibu dan membawa uang itu pergi,
entah kemana.
Ibu hanya
terbaring lemah tak berdaya, dan sekolahku pun kini mulai terabaikan. Karena
aku sibuk mengurus ibu di rumah dan sambil bekerja sampingan untuk mencari uang
demi keperluan hidup. Makan.
Aku sekarang
sudah kelas 3 SMA dan 4 bulan lagi akan mengahadapi ujian akhir. Padahal aku
sudah beberapa hari ini tidak berhadir ke sekolah dan itu membuat sebagian guru
mulai menanyakan kehadiranku. Aku harus bilang apa? Pada kenyataannya saat ini
aku sibuk untuk bekerja dari pukul 09.00 wita sampai pukul 13.00 wita. Setelah
bekerja aku hanya di rumah dan merawat ibu. Setelah beberapa hari keadaan ibu
mulai membaik dengan obat-obat yang ku belikan dari warung, meski saat ini ibu
masih tidak terlalu bisa untuk melakukan hal-hal yang berat. Uang yang kuterima
memang tidak banyak, coba saja kalian bayangkan dalam sehari aku hanyadi upah
Rp15.000,00 dan uang itu digunakan untuk membeli lauk-pauk serta sayur dan obat
ibu. Belum lagi sedikit kusisihkan untuk biaya sekolahku, dan itu sungguh
sangat tidak cukup.
Hari-hariku
seakan terhujam tajam oleh kehidupan yang kejam. Mengapa semua ini terjadi
kepadaku Tuhan? Aku mulai menghela nafas panjang, apakah ini sebuah keputus
asaan. Ah, mengapa akhir-akhir ini aku mulai menylahkan diri sendiri. Mungkin
karena aku masih belum bisa memaafkan kesalahanku yang membuat ibu menjadi
seperti ini, sakit dan tak kunjung sembuh seperti dulu. Suatu hari ketika aku
bekerja di tempatku bekerja, aku bertemu dengan seorang dokter laki-laki. Dan
dia kala itu menyodorkan sebuah pamplet kepadaku. Ah, rasanya aku tak ingin
menyambutnya. Karena dia laki-laki dan aku benci itu. Tapi berhubung aku
dituntut untuk senantiasa sopan kepada para tamu yang masuk ke Warung Makan
Permata itu, aku pun menyambut pamplet yang diberikan dokter itu dan sekilas ku
baca ada tulisan yang membuatku seakan meluap bahagia “pengobatan gratis”. Tak
ku sangka kini aku bisa membawa ibu untuk berobat meski harus melakukan
syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Rumah Sakit yaitu dengan memfotokopi
KTP dan Kartu Keluarga serta minta surat keterangan dari camat dan surat
rujukan di puskesmas. Kini ibu akan dirawat dan akan sembuh, oh sungguh Tuhan
itu Maha Baik. Dan kini aku pun mulai masuk sekolah kembali setelah 2 minggu
lebih aku tidak menghadiri pembelajaran di kelas. Untung saja pihak sekolah
tidak mengeluarkanku dan masih memaklumi keadaanku. Meski begitu masih saja ada
suara-suara yang mengusik telingaku.
4 bulan berlalu dan kini masa-masa akhirku
berada di sekolah menengah pertama. Dan kini detik-detik ujian pun telah tiba.
Rasanya baru sebentar aku berada disini dan kini akan meninggalkan semuanya
kenangan indah semasa putih abu-abu. Itu tak akan terlupakan. Ibuku pun kini
sudah bisa bekerja seperti biasa yaitu menjual sayur-mayur di pasar. Meski uang
yang didapat selalu pas-pas an. Ibu tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Setelah
2 minggu berlalu, kini tinggal menunggu hasil kelulusan. Perasaan tegang dan
gelisah mulai menghantuiku karena aku tahu aku tidak terlalu jenius.
Biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Dan akhirnya pun tiba ketika ku buka
amplop putih itu dan kubaca dengan seksama dan ternyata aku “lulus” langsung
aku tertunduk dan menatap mentap wajah ibu lalu memeluknya erat. Sangat erat,
aku bahagia. Ibu menatapku dan tersenyum bangga.
Kini aku mulai
memikirkan untuk bekerja saja dulu, karena mana mungkin aku bisa kuliah. Aku
gak punya dana. Sore sabtu aku mulai menelusuri jalan, barangkali ada lowongan
pekerjaan untuk lulusan SMA seperti aku ini. Hampir 2 jam penuh aku dengan
sepeda bututku menelusuri jalan yang penuh jejalan motor-motor yang
mengeluarkan bau asap dan menyesakkan dada itu. Untung saja aku pakai masker
yang menutupi sebagian wajahku dan itu cukup membantu agar debu-debu jalanan
itu tak mengotori wajahku.
Ah, aku mulai
menghela nafas panjang dan aku mulai menatapi sekeliling tempatku berada. Di
pinggiran jalan kota ku ini berjejer toko-toko seperti tempat fotokopian, warung
makan dan show-room mobil yang membuatku ingin segera melepaskan surat lamaran
yang semenjak tadi berada di dalam tas pink di keranjang sepedaku. Tapi,
semenjak aku singgah di toko-toko tersebut, mereka mengatakan bahwa belum ada
penerimaan untuk pegawai baru. Aku pun mulai melangkahkan kakiku keluar dari
toko-toko tersebut dan mulai mengayuhkan sepeda lagi. Untuk hari ini aku
cukupkan perjalanan ku yang sayangnya tak menemukan apa yang aku cari yaitu
pekerjaan. Perjalanan pulang hamper begitu sangat sebentar di banding ketika
aku mengayuh sepeda di awal tadi, mungkin karena hari sudah mulai menjelang
maghrib dan aku pun sampai di rumah ketika adzan berkumandang.
Pagi-pagi
sekali aku bangun dan mandi, mengguyurkan air dingin itu ke sekujur tubuhku.
Huhh, rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya karena udara pagi ini
sangat dingin, karena malam tadi hujan turun dengan sangat deras. Ibu
memanggilku dengan wajah yag sangat tulus, “Nak, kemarin ketika kamu pergi. Ada
seorang guru kamu yang datang ke rumah. Kalau tidak salah namanya Ibu ana. Dan
guru kamu itu menyuruh kamu untuk ke sekolah hari ini pukul 11.00 Wita.” Aku
menatap ibu dan berkata”Tapi kan bu,
hari ini aku mau mencari kerja lagi” sahutku seadanya. Ibu ku pun
mendekatiku dan mulai membujukku
“barangkali ada hal yang ingin disampaikan Ibu Ana kepadamu Sofi, temui saja
beliau.” Aku pun mengiyakan permintaan ibu ku, yah mungkin saja kan Ibu Ana
akan mencari kan pekerjaan untukku. Karena ibu Ana adalah seorang guru yang
sangat perhatian kepada semua muridnya, apalagi kepadaku. Beliau selalu
memberikan nasihat yang penuh kelembutan. Ah, baiklah aku akan ke sekolah
sebentar, hanya memenuhi permintaan Ibu Ana. Ku langkahkan kakiku dengan
mantap, berharap ada kabar gembira yang dapat ku dengar. Pekerjaan.
................................................................to be continued.................................................................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar