Senin, 22 September 2014

Cerpen Part 1



Malam semakin larut, namun mataku masih saja tak bisa dikatupkan. Seminggu sudah ibuku terbaring lemah di tempat tidur. Aku tak tahu pasti sakit apa yang diderita ibu. Karena sampai saat ini kami belum bias membawa ibu ke rumah sakit karena ketiadaan biaya. Hanya pengobatan tradisional saja yang bias kami lakukan, yang lebih murah biayanya. Aku tahu, seharusnya sebagai seorang anak bias menjaga ibu dengan baik. Tapi pada kenyataannya akulah penyebab dari sakit yang diderita ibu. Aku sangat sedih karena kebodohanku yag memaksa untuk naik Bianglala membuat ibu terpaksa ikut menemaniku ke Taman Raya pada malam kami situ, hal itu pun menimpa ibu. Ibu terpeleset jatuh dari anak tangga yang ada di Taman tersebut, hingga akhirnya ibu terjatuh dan kepalanya mengenai sebuah batu yang lumayan keras dan kepala ibu berdarah. Andai saja malam itu aku tak memaksa ibu untuk ke taman, pasti semua ini tak akan terjadi. Aku hanya bias menahan tangis dan memandangi wajah ibuku. Aku tahu aku lah yang salah.

Semenjak kepergian Ayahku yang entah kemana, kehidupan kami mulai tidak menentu. Ayahku pergi begitu saja dan tak meninggalkan sepeser pun uang untuk kami. Kini aku hanya tinggal berdua dengan ibu dan dengan semua kepedihan ini. Sejak  Ayah meninggalkan kami, sejak saat itulah aku sangat membenci sosok lelaki. Entah mengapa saat bertemu dengan lelaki, aku teringat ayah. Dan itu sangat menyakitkan. Kini aku dan ibu tinggal di rumah yang sangat sempit dan kumuh, karena  rumah yang telah kami diami selama 15 tahun lalu telah di jual Ayah tanpa sepengetahuan Ibu dan membawa uang itu pergi, entah kemana.

Ibu hanya terbaring lemah tak berdaya, dan sekolahku pun kini mulai terabaikan. Karena aku sibuk mengurus ibu di rumah dan sambil bekerja sampingan untuk mencari uang demi keperluan hidup. Makan.
Aku sekarang sudah kelas 3 SMA dan 4 bulan lagi akan mengahadapi ujian akhir. Padahal aku sudah beberapa hari ini tidak berhadir ke sekolah dan itu membuat sebagian guru mulai menanyakan kehadiranku. Aku harus bilang apa? Pada kenyataannya saat ini aku sibuk untuk bekerja dari pukul 09.00 wita sampai pukul 13.00 wita. Setelah bekerja aku hanya di rumah dan merawat ibu. Setelah beberapa hari keadaan ibu mulai membaik dengan obat-obat yang ku belikan dari warung, meski saat ini ibu masih tidak terlalu bisa untuk melakukan hal-hal yang berat. Uang yang kuterima memang tidak banyak, coba saja kalian bayangkan dalam sehari aku hanyadi upah Rp15.000,00 dan uang itu digunakan untuk membeli lauk-pauk serta sayur dan obat ibu. Belum lagi sedikit kusisihkan untuk biaya sekolahku, dan itu sungguh sangat tidak cukup.

Hari-hariku seakan terhujam tajam oleh kehidupan yang kejam. Mengapa semua ini terjadi kepadaku Tuhan? Aku mulai menghela nafas panjang, apakah ini sebuah keputus asaan. Ah, mengapa akhir-akhir ini aku mulai menylahkan diri sendiri. Mungkin karena aku masih belum bisa memaafkan kesalahanku yang membuat ibu menjadi seperti ini, sakit dan tak kunjung sembuh seperti dulu. Suatu hari ketika aku bekerja di tempatku bekerja, aku bertemu dengan seorang dokter laki-laki. Dan dia kala itu menyodorkan sebuah pamplet kepadaku. Ah, rasanya aku tak ingin menyambutnya. Karena dia laki-laki dan aku benci itu. Tapi berhubung aku dituntut untuk senantiasa sopan kepada para tamu yang masuk ke Warung Makan Permata itu, aku pun menyambut pamplet yang diberikan dokter itu dan sekilas ku baca ada tulisan yang membuatku seakan meluap bahagia “pengobatan gratis”. Tak ku sangka kini aku bisa membawa ibu untuk berobat meski harus melakukan syarat-syarat yang telah ditentukan oleh Rumah Sakit yaitu dengan memfotokopi KTP dan Kartu Keluarga serta minta surat keterangan dari camat dan surat rujukan di puskesmas. Kini ibu akan dirawat dan akan sembuh, oh sungguh Tuhan itu Maha Baik. Dan kini aku pun mulai masuk sekolah kembali setelah 2 minggu lebih aku tidak menghadiri pembelajaran di kelas. Untung saja pihak sekolah tidak mengeluarkanku dan masih memaklumi keadaanku. Meski begitu masih saja ada suara-suara yang mengusik telingaku.

 4 bulan berlalu dan kini masa-masa akhirku berada di sekolah menengah pertama. Dan kini detik-detik ujian pun telah tiba. Rasanya baru sebentar aku berada disini dan kini akan meninggalkan semuanya kenangan indah semasa putih abu-abu. Itu tak akan terlupakan. Ibuku pun kini sudah bisa bekerja seperti biasa yaitu menjual sayur-mayur di pasar. Meski uang yang didapat selalu pas-pas an. Ibu tak pernah mengeluh dan selalu bersyukur. Setelah 2 minggu berlalu, kini tinggal menunggu hasil kelulusan. Perasaan tegang dan gelisah mulai menghantuiku karena aku tahu aku tidak terlalu jenius. Biasa-biasa saja seperti orang kebanyakan. Dan akhirnya pun tiba ketika ku buka amplop putih itu dan kubaca dengan seksama dan ternyata aku “lulus” langsung aku tertunduk dan menatap mentap wajah ibu lalu memeluknya erat. Sangat erat, aku bahagia. Ibu menatapku dan tersenyum bangga.

Kini aku mulai memikirkan untuk bekerja saja dulu, karena mana mungkin aku bisa kuliah. Aku gak punya dana. Sore sabtu aku mulai menelusuri jalan, barangkali ada lowongan pekerjaan untuk lulusan SMA seperti aku ini. Hampir 2 jam penuh aku dengan sepeda bututku menelusuri jalan yang penuh jejalan motor-motor yang mengeluarkan bau asap dan menyesakkan dada itu. Untung saja aku pakai masker yang menutupi sebagian wajahku dan itu cukup membantu agar debu-debu jalanan itu tak mengotori wajahku.
Ah, aku mulai menghela nafas panjang dan aku mulai menatapi sekeliling tempatku berada. Di pinggiran jalan kota ku ini berjejer toko-toko seperti tempat fotokopian, warung makan dan show-room mobil yang membuatku ingin segera melepaskan surat lamaran yang semenjak tadi berada di dalam tas pink di keranjang sepedaku. Tapi, semenjak aku singgah di toko-toko tersebut, mereka mengatakan bahwa belum ada penerimaan untuk pegawai baru. Aku pun mulai melangkahkan kakiku keluar dari toko-toko tersebut dan mulai mengayuhkan sepeda lagi. Untuk hari ini aku cukupkan perjalanan ku yang sayangnya tak menemukan apa yang aku cari yaitu pekerjaan. Perjalanan pulang hamper begitu sangat sebentar di banding ketika aku mengayuh sepeda di awal tadi, mungkin karena hari sudah mulai menjelang maghrib dan aku pun sampai di rumah ketika adzan berkumandang.
Pagi-pagi sekali aku bangun dan mandi, mengguyurkan air dingin itu ke sekujur tubuhku. Huhh, rasanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikannya karena udara pagi ini sangat dingin, karena malam tadi hujan turun dengan sangat deras. Ibu memanggilku dengan wajah yag sangat tulus, “Nak, kemarin ketika kamu pergi. Ada seorang guru kamu yang datang ke rumah. Kalau tidak salah namanya Ibu ana. Dan guru kamu itu menyuruh kamu untuk ke sekolah hari ini pukul 11.00 Wita.” Aku menatap ibu  dan berkata”Tapi kan bu, hari ini aku mau mencari kerja lagi” sahutku seadanya. Ibu ku pun mendekatiku  dan mulai membujukku “barangkali ada hal yang ingin disampaikan Ibu Ana kepadamu Sofi, temui saja beliau.” Aku pun mengiyakan permintaan ibu ku, yah mungkin saja kan Ibu Ana akan mencari kan pekerjaan untukku. Karena ibu Ana adalah seorang guru yang sangat perhatian kepada semua muridnya, apalagi kepadaku. Beliau selalu memberikan nasihat yang penuh kelembutan. Ah, baiklah aku akan ke sekolah sebentar, hanya memenuhi permintaan Ibu Ana. Ku langkahkan kakiku dengan mantap, berharap ada kabar gembira yang dapat ku dengar. Pekerjaan.

................................................................to be continued.................................................................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar